Selasa 4 Agustus 2026 PAI Teori kelas 6

  


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

Kelas VI SD — Semester 1 — Bab 1

Pesan-Pesan Pokok dalam Q.S. Ad-Duḥā

Disusun berdasarkan Capaian Pembelajaran PAI SD Tahun 2026

Kurikulum Merdeka — Pendekatan Deep Learning

Mindful Learning • Meaningful Learning • Joyful Learning


 


1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu:

1.    Menjelaskan pesan-pesan pokok yang terkandung dalam Q.S. Ad-Duḥā dengan bahasa sendiri.

2.    Meneladani kandungan Q.S. Ad-Duḥā dalam kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, dan masyarakat.

 

2. Apersepsi

Sebelum memulai pelajaran, ajaklah peserta didik merenungkan cerita berikut.

Pada suatu sore, Fauzan pulang sekolah dengan wajah murung. Nilai ulangan matematikanya belum mencapai target yang ia harapkan, padahal ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh semalaman. Di jalan pulang, ia merasa sedih dan sedikit putus asa. Ia bertanya-tanya, "Apakah usahaku sia-sia?" Sesampainya di rumah, ibunya menyambut dengan senyum hangat dan berkata, "Nak, setiap usaha yang baik tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah. Kadang kemudahan datang tidak secepat yang kita duga, tetapi ia pasti datang." Malam itu, Fauzan berdoa dengan sungguh-sungguh dan tetap semangat belajar. Beberapa hari kemudian, gurunya memberi kesempatan remedial dan hasilnya jauh lebih baik. Fauzan pun menyadari bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha dan berdoa.

 

Ajukan pertanyaan pemantik kepada peserta didik:

      Pernahkah kalian merasa sedih atau putus asa seperti Fauzan?

      Apa yang biasanya kalian lakukan ketika menghadapi kesulitan?

      Menurut kalian, mengapa penting untuk tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya?

 

3. Mengenal Q.S. Ad-Duḥā

Nama Surat

Ad-Duḥā (الضحى), artinya "Waktu Duha" atau "Waktu Pagi Hari"

Jumlah Ayat

11 ayat

Golongan Surat

Makkiyah (diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah)

Urutan dalam Mushaf

Surat ke-93

Waktu Turunnya

Diturunkan pada masa awal kenabian, setelah beberapa waktu Nabi Muhammad saw. tidak menerima wahyu

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya)

Nabi Muhammad saw. sempat tidak menerima wahyu dalam beberapa waktu sehingga sebagian orang kafir mengejek dan mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan beliau. Maka turunlah surat ini untuk menenangkan hati Nabi bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dan tidak pernah membenci beliau.

 video pembelajaran :


4. Uraian Materi: Pesan-Pesan Pokok Q.S. Ad-Duḥā

a. Allah Tidak Pernah Meninggalkan Hamba-Nya

Pada ayat awal, Allah bersumpah demi waktu duha dan malam yang gelap, kemudian menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan Nabi Muhammad saw. dan tidak pula membencinya. Pesan ini mengajarkan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, walaupun kadang kita merasa sendirian saat menghadapi kesulitan.

Contoh: Saat Adi merasa kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja, ia tetap yakin bahwa Allah selalu menyertainya melalui doa dan zikir setiap hari.

b. Allah Selalu Memberi Harapan

Allah menjanjikan bahwa kehidupan yang akan datang (baik di dunia maupun akhirat) akan lebih baik daripada keadaan sekarang bagi orang yang bersabar dan berusaha. Pesan ini menumbuhkan sikap optimis dan pantang menyerah.

Contoh: Meskipun nilai ulangan belum memuaskan, seorang siswa tetap semangat belajar karena yakin hasil yang lebih baik akan datang jika ia terus berusaha.

c. Kehidupan Akhirat Lebih Baik daripada Kehidupan Dunia

Allah mengingatkan bahwa kenikmatan akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal dibandingkan kenikmatan dunia yang sementara. Pesan ini mengajak kita untuk tidak terlalu mencintai dunia secara berlebihan.

Contoh: Rajin salat lima waktu dan mengaji meskipun sedang asyik bermain, karena menyadari bahwa pahala akhirat lebih berharga.

d. Allah Selalu Memberikan Nikmat kepada Manusia

Allah menyebutkan beberapa nikmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw., yaitu menjadikannya yatim namun dilindungi, memberi petunjuk saat kebingungan, dan mencukupkan kebutuhannya saat kekurangan. Setiap manusia juga menerima nikmat serupa dalam bentuk yang berbeda-beda.

Contoh: Memiliki keluarga yang menyayangi, tempat tinggal yang nyaman, dan kesempatan untuk bersekolah adalah nikmat besar dari Allah.

e. Perintah Bersyukur atas Nikmat Allah

Karena banyaknya nikmat yang diberikan, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bersyukur, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan.

Contoh: Mengucapkan Alhamdulillah setiap menerima kebaikan, dan menjaga barang-barang pemberian orang tua dengan baik.

f. Larangan Berlaku Kasar kepada Anak Yatim

Allah melarang untuk menghardik atau bersikap kasar kepada anak yatim. Anak yatim harus disayangi, dilindungi, dan diperlakukan dengan lembut sebagaimana Nabi Muhammad saw. sendiri pernah menjadi yatim.

Contoh: Mengajak teman yatim bermain bersama dan tidak membeda-bedakan perlakuan terhadapnya.

g. Perintah Membantu Orang yang Membutuhkan

Allah memerintahkan untuk tidak menghardik peminta-minta atau orang yang meminta bantuan, melainkan membantu sesuai kemampuan dengan cara yang baik.

Contoh: Menyisihkan sebagian uang jajan untuk disumbangkan kepada teman yang membutuhkan atau ke kotak amal.

h. Perintah Menceritakan Nikmat Allah dengan Rasa Syukur

Pada ayat terakhir, Allah memerintahkan untuk menceritakan nikmat-Nya sebagai bentuk syukur, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menyebarkan semangat berbagi kebaikan dan optimisme kepada orang lain.

Contoh: Bercerita kepada keluarga tentang kebaikan yang dialami hari ini sehingga menumbuhkan semangat bersyukur bersama.

 

5. Hikmah Mempelajari Q.S. Ad-Duḥā

      Menumbuhkan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya dalam suka maupun duka.

      Menjadikan diri lebih optimis dan tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan.

      Membiasakan diri bersyukur atas setiap nikmat, sekecil apa pun.

      Menumbuhkan rasa sayang dan peduli kepada anak yatim.

      Melatih kepedulian sosial dengan membantu orang yang membutuhkan.

      Menyadari bahwa kehidupan akhirat lebih utama daripada dunia yang sementara.

      Membiasakan berdoa dan berusaha ketika menghadapi masalah, bukan mengeluh.

      Menumbuhkan kebiasaan berbagi cerita kebaikan untuk menginspirasi orang lain.

      Melatih kesabaran dalam menunggu pertolongan Allah.

      Membentuk pribadi yang lembut, ramah, dan tidak kasar kepada sesama.

      Menguatkan rasa percaya diri bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.

 

6. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut tabel penerapan pesan-pesan Q.S. Ad-Duḥā dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Pesan Surat

Contoh Perilaku

Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya

Tetap berdoa dan yakin saat menghadapi kesulitan ujian di sekolah

Allah selalu memberi harapan

Tidak mudah putus asa ketika nilai ulangan kurang memuaskan, lalu berusaha lebih giat

Kehidupan akhirat lebih baik dari dunia

Rajin salat dan mengaji meskipun sedang asyik bermain gawai

Allah memberikan nikmat kepada manusia

Mengucap Alhamdulillah setiap menerima makanan atau kebaikan

Perintah bersyukur atas nikmat Allah

Merawat buku dan alat sekolah pemberian orang tua dengan baik

Larangan berlaku kasar kepada anak yatim

Bersikap lembut dan ramah kepada teman yang yatim di kelas

Perintah membantu orang yang membutuhkan

Menyisihkan uang jajan untuk disumbangkan ke kotak amal sekolah

Perintah menceritakan nikmat Allah

Bercerita kepada keluarga tentang kebaikan yang dialami hari ini

Allah membimbing yang tersesat (dhall)

Bertanya kepada guru atau orang tua ketika bingung menghadapi masalah

Allah mencukupkan yang miskin ('a'ila)

Berbagi bekal makanan dengan teman yang lupa membawa bekal

 

7. Kisah Inspiratif

Cahaya di Ujung Kesabaran

Rania adalah seorang siswa kelas VI yang tinggal bersama neneknya di sebuah desa kecil. Sejak kedua orang tuanya bekerja jauh di kota, Rania sering merasa kesepian. Setiap pagi, ia harus berjalan cukup jauh menuju sekolah, membantu neneknya berjualan kue sepulang sekolah, dan belajar sendiri di malam hari tanpa ada yang membimbing.

Suatu hari, sekolah mengumumkan akan mengadakan lomba membaca Al-Qur'an tingkat kecamatan. Rania sangat ingin ikut, namun ia merasa minder karena bacaannya belum lancar dan ia tidak memiliki guru mengaji khusus seperti teman-temannya yang lain. Ia sempat berpikir untuk menyerah saja sebelum mencoba. "Buat apa ikut, aku pasti kalah," gumamnya sambil menatap langit sore yang mulai gelap.

Neneknya yang mendengar keluhan itu kemudian duduk di sampingnya dan berkata lembut, "Nak, coba dengarkan Surat Ad-Duha. Allah berjanji bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan bahwa kehidupan yang akan datang akan lebih baik jika kita bersabar dan terus berusaha. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sungguh-sungguh." Mendengar nasihat itu, Rania merenung. Ia teringat bahwa selama ini ia selalu bisa makan, bersekolah, dan memiliki nenek yang menyayanginya — itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, bukan diratapi.

Sejak malam itu, Rania mulai bangun lebih pagi untuk berlatih mengaji sebelum berangkat sekolah. Ia juga meminta bantuan gurunya di sekolah untuk membimbingnya sepulang jam pelajaran. Meski lelah karena harus membagi waktu antara belajar dan membantu neneknya berjualan, ia tidak pernah mengeluh. Setiap kali merasa lelah, ia mengingat pesan Ad-Duha bahwa Allah selalu memberi harapan bagi orang yang bersabar.

Hari lomba pun tiba. Dengan hati berdebar, Rania tampil membacakan ayat suci Al-Qur'an di hadapan juri dan peserta lain. Ia tidak tampil sesempurna peserta lain yang telah lama belajar dengan guru privat, namun suaranya penuh keyakinan dan ketulusan. Setelah semua peserta tampil, hasil lomba pun diumumkan. Nama Rania dipanggil sebagai juara kedua tingkat kecamatan!

Rania menangis haru. Bukan hanya karena piala yang ia terima, tetapi karena ia menyadari bahwa Allah benar-benar tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha dan bersabar. Sepulang dari lomba, ia memeluk neneknya erat dan berkata, "Nenek benar. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan." Sejak saat itu, Rania semakin rajin belajar, semakin bersyukur atas setiap nikmat kecil dalam hidupnya, dan selalu bersemangat menceritakan kebaikan yang ia alami kepada teman-temannya agar mereka pun ikut termotivasi untuk tidak mudah menyerah.

 

8. Aktivitas Deep Learning

Mindful Learning (Berkesadaran)

      Mengamati: Peserta didik menyimak bacaan dan terjemahan Q.S. Ad-Duḥā dengan saksama sambil memperhatikan makna setiap ayat.

      Menemukan Makna: Peserta didik mengidentifikasi kata kunci dalam setiap ayat dan menghubungkannya dengan pesan pokok surat.

      Refleksi Diri: Peserta didik menuliskan satu pengalaman pribadi yang berkaitan dengan salah satu pesan surat, misalnya saat merasa putus asa lalu mendapat kemudahan.

Meaningful Learning (Bermakna)

      Diskusi Kelompok: Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan satu pesan pokok surat dan contoh penerapannya.

      Studi Kasus: Peserta didik menganalisis sebuah kasus sederhana (misalnya, teman yang dikucilkan) dan menentukan sikap yang sesuai dengan pesan Q.S. Ad-Duḥā.

      Presentasi Hasil Diskusi: Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas secara bergantian.

Joyful Learning (Menyenangkan)

      Permainan Kartu Pesan Ayat: Peserta didik mencocokkan kartu ayat dengan kartu makna/pesan yang sesuai.

      Tebak Makna Ayat: Guru membacakan potongan makna ayat, peserta didik menebak ayat atau pesan yang dimaksud.

      Bermain Peran (Role Play): Peserta didik memerankan situasi membantu teman yang kesulitan, sesuai pesan surat untuk saling menolong.

Refleksi Setelah Kegiatan :

Alhamdulillah Materi telah tersampaikan dengan baik,dengan suasana yang kondusif,namun ada 2 siswa yang masih perlu di beri penekanan materi,dan alhamdulillah sdh terlaksana. 


Komentar